Jumat, 15 April 2016

Langkah Awal Menuju Paperless Office : Jangan Print E-Mail Anda!

Apa sih Paperless Office itu? Mengapa banyak sekali digembar-gemborkan dan dianjurkan? Mengapa pula katanya Paperless Office adalah tentang masa depan?

Begini.

Supaya sederhana dan tidak terlalu teoritis, kita mulai dari yang paling sederhana, yaitu pertanyaan paling awal, yaitu

Apa sih "paperless office" itu?

Istilah ini sebenarnya terbentuk dari dua buah kata dalam bahasa Inggris, yaitu "Paperless" dan "Office". Paperless berarti Tanpa Kertas (Paper = Kertas, Less = Akhiran yang berarti Tanpa). Office berarti Kantor.

Jadi kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, maka istilah ini akan berarti "Kantor Tanpa Kertas".

Lho. Bagaimana bisa?

Mana bisa sebuah kantor beroperasi dan beraktifitas tanpa menggunakan kertas? Kantor selalu membutuhkan kertas baik untuk dokumen atau arsip dari berbagai hal, jadi bukankah tanpa kertas sama saja membuat lumpuh kantor tersebut?

Panjang sekali pertanyaan sekaligus bantahannya. Memang hanya pertanyaan imajiner tetapi berdasarkan pada realita masih banyaknya orang yang memandang dengan heran ketika mendengar konsep atau istilah Kantor Tanpa Kertas ini. Pandangan mereka seakan-akan mengatakan bahwa Anda seperti sedang mengidamkan Pohon Semangka Berdaun Sirih, seperti judul penyanyi top masa lalu, Broery Marantika.

Padahal kenyataannya hal itu sangat mungkin untuk dilaksanakan dan semua kantor, baik swasta atau pemerintah sedang menuju ke arah sana.

Untuk mudahnya hal tersebut bisa dilihat dari beberapa hal sederhana, seperti salah satu faktor yang dipertimbangkan saat hendak membeli sebuah komputer, yaitu UKURAN HARD DISK. Semakin hari ukuran cakram penyimpan data itu semakin besar dan bahkan menjurus menuju raksasa. Sebuah hal yang tidak pernah terbayangkan akan ada 20 tahun yang lalu.

Bisa juga dilihat dari semakin banyaknya orang yang mengirim email melalu perangkat seluler seperti smartphone atau HP.  ATM, Anjunga Tunai Mandiri tidak lagi mengeluarkan struk kertas. Bank-bank Indonesia mulai "memaksa" nasabahnya untuk lebih sering menggunakan e-banking. Karcis Commuter Line dan TransJakarta tidak lagi berupa kertas. Dan, masih banyak hal lain yang kalau disebutkan satu persatu akan membuat tulisan ini mencapai 20,000 kata.

Kesemua ini menunjukkan bawah masyarakat dunia, termasuk Indonesia memang sedang menuju ke arah dimana kantor mereka suatu waktu tidak akan lagi dipenuhi oleh tumpukan kertas. Tidak perlu lagi memprint sebuah dokumen hanya untuk ditandatanngani oleh pak bos. Tidak perlu lagi membawa tumpukan arsip ketika menuju ke sebuah acara presenteasi atau meeting.

Hanya tinggal menunggu waktu saja.

Alasan Menerapkan Paperless Office 

Nah, ini tentang masa depan.

Itulah mengapa konsep Paperless Office atau Kantor Tanpa Kertas terus digembar-gemborkan dan dipublikasikan. Sebenarnya bukan hanya kantor saja yang harus menerapkan, tetapi juga dalam kehidupan keseharian manusia, konsep ini harus coba diterapkan.

Paperless Office adalah tentang masa depan manusia dan kehidupan di bumi ini.

Pernahkah disadari hal-hal berikut ini

  • Untuk memproduksi satu ton kertas dibutuhkan 3 ton kayu 
  • Untuk memproduksi 3 lembar kertas dibutuhkan 3 liter air
  • Saat memproduksi 1 ton kertas (kira-kira 400 rim kertas) hasil sampingannya adalah 2.6 ton Karbondioksida (CO2) yang berbahaya bagi kehidupan manusia
  • Sebuah pohon dapat dijadikan 16 rim kertas atau 6400 lembar (saja)
  • Produksi satu ton kertas juga menghasilkan 72.000 liter limbah cair dan 1 ton limbah padat
  • Rata-rata pemakaian kertas di dunia per-orang per-tahun adalah mencapai 25-340 kilogram (tertinggi di Amerika Serikat)
  • 95% kertas di dunia dibuat dari bahan baku kayu
Pada saat Anda melihat data tersebut di atas, coba pertanyakan juga darimana Oksigen (O2) yang dipakai untuk bernafas manusia dan hewan itu berasal? Kalau Anda pernah belajar biologi di Sekolah Menengah Pertama saja, maka pertanyaan itu akan bisa dijawab dengan mudah.

Ya, betul. POHON!

Sebatang pohon dewasa menghasilkan Oksigen atau O2 yang cukup untuk memenuhi kebutuhan 2 orang dewasa untuk bernafas setiap tahunnya. Sementara itu pada saat bersamaan, sebatang pohon menghisap Karbondioksida (CO2) sebanyak 24 kilogram setiap tahunnya. Proses fotosintesis sebuah pohon akan menyerap Karbondioksida dan kemudian melepaskan Oksigen selain menghasilkan makanan bagi dirinya.

Nah, sekarang lihat saja data penggunaan kayu sebagai bahan bakar kertas di seluruh dunia. Angkanya luar biasa, yaitu 670 juta ton kayu dipakai untuk memenuhi kebutuhan kertas dunia. Angka yang luar biasa bukan?Tentu saja angka ini akan terus membengkak seiring dengan laju pertumbuhan penduduk dunia. Semakin banyak penduduk kebutuhan akan terus meningkat. Sebuah hal yang sudah pasti.

Lalu, asumsikan saja kalau sebuah pohon bisa menghasilkan 1 ton kayu saja, berarti setiap tahun akan ada pohon dalam jumlah yang sama ditebang. Enam ratus tujuh puluh juta pohon akan ditebang setiap tahun, demi kertas.

Tidak mengherankan kalau hutan di seluruh dunia, semakin hari semakin menyempit.

Hilangnya pohon sudah banyak dirasakan oleh manusia. Banyak tempat, yang dulu rindang dan teduh menjadi panas dan pengap karena hilangnya supplier oksigen alami ini. Tanah menjadi kurus dan tidak subur karena tidak ada lagi unsur hara/sampah organik dari pepohonan.

Kalau kecepatan kebutuhan kertas tidak segera direm, maka sudah pasti setiap tahunnya jutaan hektar hutan pun akan segera hilang. Kalau hutan hilang, maka supplier Oksigen akan berkurang pula demi memenuhi kebutuhan manusia akan benda bernama KERTAS.

Itulah mengapa Paperless Office adalah sesuatu yang HARUS, suka atau tidak suka diwujudkan dalam kehidupan manusia. Semakin cepat semakin baik. Semakin cepat hal ini terealisasi, semakin aman sebuah pohon. Semakin aman keberadaan sebuah pohon, berarti terjaminnya supplier oksigen untuk kehidupan manusia.

Paperless Office adalah tentang masa depan kesejahteraan manusia sendiri.

Keuntungan Paperless Office

Money Talks!

Kenyataannya, memang demikian.

Unsur ekonomi dan sifat kapitalis yang merasuk ke dalam diri masyarakat modern dewasa ini kadang menyulitkan.

Bahkan dengan sebuah prediksi suram tentang masa depan umat manusia bila hutan musnah pun, kegiatan produksi yang mengandalkan hutan tropis tetap berjalan.

Ide mulia konsep Paperless Office pun jelas mendapatan tantangan dari banyak pihak, terutama yang mendapatkan keuntungan dari produksi kertas itu. Jelas merupakan hambatan yang sangat besar.

Untungnya, konsep Paperless Office sendiri menawarkan bukan hanya sekedar ide mulia tentang masa depan manusia tanpa hutan. Kantor Tanpa Kertas pun menawarkan banyak keuntungan secara ekonomis kepada penggunanya, baik itu perorangan ataupun secara kelompok. Sesuatu yang tentu saja tidak akan ditolah oleh manusia dewasa ini.

Beberapa keuntungan dari menerapkan konsep paperless office dalam keseharian bisa disebutkan sebagai berikut

  • Penhematan : bila data bisa disimpan dalam bentuk digital, maka tidak perlu lagi membeli kertas. Bagi sebuah kantor yang menggunakan 100-200 rim setiap bulan, maka akan ada penghematan pengeluaran.
  • Praktis : bisa bayangkan membawa tumpukan 200 file kertas untuk dibagikan pada 200 peserta rapat, bandingkan dengan membagikan sebuah file pdf pada 200 orang. Selain menghemat uang untuk membeli kertasnya, juga kecepatan dan segi kepraktisan mengedarkan sebuah file digital membuat efisien dalam waktu. Sementara dalam bisnis waktu adalah uang.
  • Cepat : kirimkan satu bundel file kertas lewat jasa kurir, berapa lama waktu yang dibutuhkan? Satu jam, dua jam, satu hari? Berapa waktu yang lama untuk mengirimkan email dengan attachment file pdf? Hampir hanya sekejap mata (asal tidak ada gangguan server)
  • Irit tempat : Tidak perlu beli lemari penyimpan berukuran besar untuk menempatkan arsip atau dokumen. Cukup sebuah server atau komputer dengan kapasitas 1 Terrabyte dan akan mencukupi untuk penyimpanan dokumen digital entah berapa tahun. Padahal ukurannya tidak sampai 1/10 ukuran sebuah lemari file yang hanya bisa dipakai menyimpan sedikit saja.
  • Mobile :dengan data tersimpan dalam bentuk file dan perkembangan tehnologi seperti sekarang data tersebut bisa diakses darimana saja. Bentuk kantor pun tidak lagi bersifat statis tetapi bisa dimana saja Anda berada. 
Keuntungan-keuntungan ini lah, ditambah semakin tingginya kesadaran masyarakat dunia akan lingkungan, mendorong konsep Paperless Office semakin berkembang di seluruh penjuru dunia. Ide mulia penyelamatan lingkungan semakin kencang ditunjang oleh keuntungan-keuntungan yang ditawarkan.

Penerapan Paperless Office


Aplikasi konsep Paperless Office sebenarnya tidaklah terlalu rumit. Tehnologi dewasa ini sudah sangat mendukung pelaksanaannya.

Ketersediaan perangkat untuk emngubah data ke dalam bentuk digital seperti scanner sangat banyak. Siapapun dapat dengan mudah membelinya. Harganya pun semakin terjangkau oleh masyarakat umum.

Ketersediaan internet juga semakin hari semakin melimpah. Yah tentu saja, masih ada juga yang belum merasakan fasilitas ini, tetapi secara garis besar, internet sudah ada dan bisa diakses oleh berbagai kalangan.

Komputer, notebook, smartphone semakin lama semakin canggih dan lagi-lagi sudah bisa dimiliki oleh kalangan umum. Setiap kantor, bahkan di kantor kelurahan pun sudah hampir pasti memilikinya (kalau kelurahan Anda belum memiliki komputer, ajukan keluhan ke Mendagri!)

Lalu, apa yang menjadi hambatan untuk mulai menerapkan Paperless Office? "Seharusnya" tidak ada.

Kata seharusnya ditambahkan karena pada kenyataannya, di Indonesia sendiri penerapannya seperti kura-kura. Banyak sekali kantor masih mengandalkan pada kebiasaan lama, yaitu menyimpan arsip dan dokumen dalam bentuk kertas. Coba saja memperpanjang Surat Tanda Nomor Kendaraan di Kantor Samsat, jangan yang di Jakarta tapinya. Anda akan menemukan bagaimana dalam prosesnya, ada langkah untuk "MENGAMBIL ARSIP".

Dalam langkah ini, sang pemohon harus mendatangi ruang arsip untuk mengambil berkas-berkas yang terkait dengan kendaraan yang dimilikinya. Berkas tersebut masih berupa berbagai dokumen dalam bentuk kertas dalam sebuah map yang sudah kucel dan lusuh.

Padahal kalau konsep Paperless Office diterapkan, maka seharusnya pencarian arsip atau data bisa menggunakan sistem komputer. Petugas hanya perlu mengetikkan data yang dicari dan akan segera tampil di layar monitor.

Itu adalah satu contoh hal bahwa penerapan konsep ini masih belum berjalan.

Masalah utamanya bukan tentang ketersediaan tehnologi. Bukan pula tentang ada atau tidaknya dana. Hal yang paling menghambat adalah mengenai KEBIASAAN.

Seseorang yang terbiasa dengan melihat dokumen berupa kertas akan merasa sangat tidak nyaman membacanya di layar komputer. Apalagi kalau ternyata ia tidak menguasai cara mengoperasikannya. Seorang yang terbiasa mengetik dengan mesin tik akan gagap ketika berhadapan dengan Micrsoft Word.


Bayangkan ketika seorang petinggi di sebuah kantor pemerintahan atau swasta tidak nyaman kalau tidak membaca di atas kertas. Bagaimana mungkin ia akan mendorong bawahannya untuk mengubah semua data ke dalam bentuk digital? Hampir tidak mungkin. Ia akan tetap memakai pola lama yang ditularkannya terus ke para bawahannya.

Ujungnya, para bawahannya pun seakan sulit untuk berubah dan bahkan menerima ide baru yang jelas lebih efisien dan menguntungkan. Seringkali menyebabkan mereka tidak mau belajar.

Perubahan sebuah budaya tidak akan pernah terjadi secara drastis. Perubahan ini akan selalu dalam bentuk evolusi dan bukan revolusi. Begitu pula dalam penerapan Paperless Office. Tidak akan terjadi dalam sekejap dan akan tetap membutuhkan waktu cukup lama. Waktu yang diperlukan sampai orang-orang yang memiliki pola pikir lama turun dari jabatannya dan digantikan oleh orang-orang yang lahir di masa komputer adalah mainan.

Hanya, semakin cepat penerapan Paperless Office dilakukan semakin cepat masa depan manusia ditentukan. Yang pasti juga semakin cepat keuntungan baik ekonomi atau waktu bisa diraih.

Bila Anda sangat menyadari hal ini, tetapi sistem kantor belum memungkinkan dengan berbagai alasan, sistem ini sebenarnya bisa diterapkan pada setiap individu. Dalam kehidupan keseharian pun mengurangi penggunaan kertas sesedikit mungkin akan sangat menunjang percepatan penyelamatan hutan dan pohon.

Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan "TIDAK MEMBUAT PRINT EMAIL". (jika tidak terlalu penting). Kebiasaan yang masih sering dilakukan banyak orang adalah membuat semua print email yang masuk. Padahal hal itu adalah kontradiksi dari adanya email (sebuah bentuk digital dari kertas dan data).. Ujungnya tetap saja harus dibuatkan arsip, perlu lemari arsip, dan sebagainya yang masih memakai kertas.

Simpanlah dokumen Anda dalam bentuk PDF atau bentuk digital lainnya. Toh isinya akan tetap sama.

Itulah langkah awal sederhana yang bisa Anda lakukan. Setelah itu lanjutkan dengan, Jangan Print foto-foto Anda, Jangan baca koran cetak, dan seterusnya. Ingat Paperless Office adalah evolusi dan bukan revolusi. Manusia akan tetap memerlukan waktu untuk berubah.

Mulailah dengan langkah sederhana, yaitu JANGAN PRINT EMAIL ANDA. Yang pasti jangan print artikel ini. Cukup baca saja dan ambil intinya. Kalau mau share, via internet saja.

Bukan begitu kawan?



















 



Rabu, 13 April 2016

Perlukah Membeli Smartphone Baru?

"Saya harus membeli smartphone baru!" Bisa juga versi lainnya "Sudah saatnya mengganti gadget ini dengan gadget itu!". Dan masih banyak lagi hal-hal sejenis yang terlintas di kepala, terutama saat kita menerima bonus atau mendapat rezeki dadakan dalam jumlah yang lumayan.

Tidak jarang juga sebenarnya, ketika kita mendapatkan struk gaji baru yang sudah dinaikkan, kalimat-kalimat itu sering melintas di kepala

Entah kenapa.

Memang entah kenapa, benda bernama smartphone atau gadget atau juga HP selalu menjadi benda pertama yang harus terpikirkan ketika ada uang berlebih. Tidak jarang walaupun lebihnya sendiri sebenanrya tidak begitu banyak, tetapi benda elektronik yang awalnya untuk berkomunikasi ini, biasanya mendapat perhatian utama setelah sandang dan pangan.

Paling tidak untuk hal itu berlaku untuk banyak orang di Indonesia yang jumlah HP atau smartphonenya bahkan melebihi jumlah penduduknya sendiri. Jumlah penduduk Indonesia, termasuk bayi, suku terasing , orang gila dan orang-orang yang tidak bisa lagi mempergunakan HP/smartphone adalah sekitar 251 juta pada saat ini. Sementara ini jumlah HP/smartphone yang beredar tercatat mencapai 270 juta buah. (Silakan lihat link ini) . Kalau jumlah Smartphonenya sendiri mencapai 55 juta (lihat di sini)

Amazing.

Sekaligus mengherankan mengingat negara ini belumlah menjadi sebuah negara maju, tetapi masih berkubang sejak puluhan tahun lalu dalam kategori "Negara Berkembang".

Mungkin karena sebagai negara berkembang itulah, masyarakat di Indonesia sangat "peka" dan sangat menaruh minat kepada hal-hal yang berbau tehnologi. Mereka cenderung berpandangan bahwa ke-modern-an, atau kekinian, seseorang bisa diukur dari seberapa canggih dan mahal perangkat smartphone atau gadget yang mereka miliki. Semakin modern dan mahal, maka masyarakat sering memandang si empunya sebagai manusia yang modern.

Smartphone atau gadget sudah mendapat fungsi tambahan. Selain sebagai peralatan komunikasi penunjang kehidupan, menjadi sebuah penanda status.  Tidak akan mengherankan jikalau seorang yang hanya memegang Smartphone Samsung kelas bawah akan begitu kagum memperhatikan penjelasan seorang yang memiliki Iphone 6 atau Samsung Galaxy S6.

Karena sikap dan cara pandang yang seperti itulah, masyarakat di negara ini menjadi sebuah pasar penting dan besar bagi para produsen smartphone. Merk-merk seperti Samsung, Sony, Oppo dan lainnya melakukan perlombaan tak henti untuk mengeluarkan produk terbaru dan "inovasi" termodern untuk menarik minat masyarakat di negara terluas ke-14 ini untuk membeli.

Yang ternyata direspon dengan sangat "positif" oleh khalayak pembeli di Indonesia. Pembicaraan mengenai smartphone merk "AAA" dengan kamera 13 MP (Mega Pixelnya) atau merk "BBB" dengan kaca yang digores dengan pisau pun tidak akan bisa kerap mewarnai pembicaraan keseharian.

Ditingkahi dengan berbagai pesan sponsor alias iklan komersil di layar televisi atau media cetak semakin mendorong keinginan membeli menyala pada banyak orang.

Sebuah perkembangan yang positif? Yah. Tergantung darimana sisi pandang kita. Kalau saya seorang produsen smartphone jelas sangat positif. Pembeli semakin banyak berarti pemasukan dan tentu saja profit alias keuntungan akan semakin besar. Teramat sangat positif dan baik.

Hanya, bagi sebuah masyarakat dengan jumlah orang miskin masih di atas 30 juta dan masyarakat hampir miskin memiliki angka yang hampir mirip, tentu saja hal ini mencengangkan dan agak mengherankan.

Tidak kalah mengherankan pula sebagai sebuah negara dengan peringkat kecepatan internetnya HANYA pada posisi 122 di dunia,  paling tidak ada 55 juta smartphone di Indonesia. Padahal smartphone adalah sebuah perangkat yang bergantung pada internet untuk berfungsi secara maksimal.

Sebuah fenomena yang membingungkan.

Mungkin masyarakat negara ini tidak pernah mengajukan sebuah pertanyaan kepada diri mereka sendiri. Mungkin ya, karena untuk mengetahui motif setiap orang untuk melakukan pembelian itu berbeda.

Pertanyaan itu adalah "Perlukah Membeli Smartphone Baru?"

Perlukah Membeli Smartphone Baru?

Lho. Bukankah membeli smartphone baru menandakan bahwa orang tersebut memang membutuhkan?

Tidak selalu.

Berkaca dari jumlah pemilik HP yang melebihi jumlah penduduk Indonesia tidak selalu pembelian HP atau smartphone atau gadget dilakukan karena kebutuhan. Bila dilihat lagi rasio 1 : 1.8 di DKI Jakarta, dimana berarti setiap orang di ibukota Indonesia ini memiliki 1.8 HP, jelas sekali mengindikasikan banyaknya pembelian HP dilakukan oleh orang yang sudah paling tidak mempunyai 1 buah benda yang sama di tangannya.

Seperti sudah sekilas dijelaskan di awal artikel, ada kemungkinan pembelian dilakukan karena tergoda atau terbuai oleh iklan-iklan produsen. Ada juga yang dilakukan karena ingin terlihat keren dan kekinian oleh orang lain dan masih banyak lagi alasan selain karena "BUTUH".

Hanya ada dua jenis orang yang benar-benar butuh untuk membeli smartphone atau HP. Kedua jenis ini adalah

1. Orang Yang Belum Punya HP atau Smartphone

Walau tidak memiliki HP atau smartphone tidak berarti kematian bagi seseorang, di zaman dimana informasi sangat dibutuhkan ini, ketiadaan keduanya memang akan memperlambat pergerakan dan mobilitas seseorang. Suka atau tidak suka, itu adalah sebuah tuntutan zaman.

Oleh karena itu, kalau memang belum mempunyai HP atau smartphone, belilah satu. Tidak perlu yang mahal tetapi harus cukup memiliki fitur yang dapat menunjang mobilitas dan pergerakan.

2. Orang Yang HP atau smartphonenya Rusak (dan itu HP atau smartphone satu-satunya)

Kondisi yang membuat seseorang kembali ke no 1.

Bagaimana orang di luar kategori itu? Tidak perlu. O ya , saya mengerti berbagai alasan yang akan diajukan dan dikeluarkan ketika ingin membeli smartphone baru. Biasanya mulai dari terasa lamban, kurang cepat, camera hanya 5 Mega Pixel, tidak ada guerilla glass anti gores, terlalu kecil di tangan, tidak bisa untuk nonton film, dan masih banyak lagi alasan untuk mengganti smartphone yang sudah ada.

Terutama, kalau habis dapat bonus atau kenaikan gaji.

Tetapi, coba perhatikan beberapa hal ini mengapa sebenarnya Anda tidak perlu membeli smartphone baru kalau sudah punya satu di tangan. Smartphone yang lama saja sebenarnya sudah cukup. Tanyakanlah pada diri sendiri beberapa hal ini

A. Fitur Smartphone Apa Yang Paling Banyak Dipakai

Boleh saya tebak. Whatsapp, Facebook, Google Plus, Video Player, dan tentu saja Kamera terutama yang bagian depan. Sekarang ditambah dengan aplikasi Grab Bike/Car atau Go-Jek.

Lalu fitur-fitur seperti Note, Google Drive, dan masih banyak lagi fitur smatrphone yang bahkan tidak pernah dipakai (atau bahkan tidak diketahui apa fungsinya).

Lalu, seberapa lebih cepat sebuah smartphone baru pada fitur-fitur tersebut dibandingkan smartphone Anda yang lama.

Jawabnya mungkin mengherankan, tetapi sebenarnya sama saja, atau supaya Anda tidak protes panjang, saya sebut hampir sama. Berbeda hanya sepersekian detik saja karena prosesor yang lebih mumpuni. Tetapi, apakah Anda bisa merasakan perbedaan yang sepersekian detik itu pada Whatsapp? Saya tidak yakin.


B. Megapixel bukanlah penanda kualitas

Ini bisa dikata sebuah misunderstanding yang sengaja dibiarkan. Salah satu bagian yang paling sering ditonjolkan adalah besaran mega pixel kamera yang dimiliki sebuah smartphone.Masyarakat pun sering menonjolkan besaran mega pixel sebagai penanda betapa berkualitas foto yang akan dihasilkan oleh smartphone yang dimilikinya.

Padahal kenyataannya tidak. Apalagi bila Anda penggemar fotografi, pasti sudah mengetahui fakta ini. Kualitas foto ditentukan oleh sensor yang dipergunakan dan bukan ukuran fotonya.

Ukuran mega pixel hanyalah ukuran , secara singkatnya, yang menandakan seberapa besar sebuah hasil foto bisa dicetak ke atas kertas. Semakin besar mega pixel, maka foto akan bisa dicetak atau diprint dalam sebuah kertas yang berukuran lebih lebar.

Padahal kebanyakan foto hasil jepretan smartphone, jarang sekali dicetak. Yang paling sering adalah langsung diunggah ke media sosial yang biasanya ukurannya diperkecil lagi.

Jadi untuk apa mega pixel-nya besar kalau kemudian diperkecil lagi.

C. Untuk Pecinta Selfie

Kategori ini memang mendapat perhatian khusus karena tidak jarang mereka mau mengeluarkan uang lebih asalkan dapat memiliki foto selfie yang berkualitas.

Berkualitas tentu saja tidak mungkin didapat dari kamera VGA 2 atau 5 MP yang sudah sangat "ketinggalan" zaman itu. Tidak keren hasilnya. Jadi tentu saja kehadiran Samsung Galaxy S7 dengan kamera depan yang mencapai 8 MP jelas akan memberikan sesuatu yang lebih. Belum lagi ditambah kameranya yang belakang yang mencapai 13 MP itu.

Harga Rp.8.999.000 juta tentu layak? Bukan begitu.

Yah. Whatever. Saya hanya bisa bilang kalau Anda sudah memiliki sebuah smartphone di tangan, daripada Anda membeli sebuah Sa,sung Galaxy S7 atau sejenisnya dengan alasan untuk menghasilkan foto selfie yang lebih bagus, lebih baik membeli sebuah kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex) Canon EOS 650D/700D atau Nikon 5300D.

Lho? Ya karena semua jenis kamera DSLR itu sensornya sudah pasti lebih baik dibandingkan dengan Samsung Galaxy S7. Lensa DSLR jelas susah ditandingi lensa smartphone jenis apapun begitu pula sensor yang dipakainya.

Tapi tidak bisa untuk selfie? O ya maaf saya lupa untuk selfie. Juga saya lupa menyebutkan bahwa merk-merk yang saya sebutkan itu memiliki layar LCD yang istilahnya Vari-Angle alias bisa diputar ke berbagai arah. Jadi untuk selfie pun bukan masalah.

Harganya, silakan cek sendiri tetapi jelas di bawah Samsung merek ini. Bukankah kita juga dapat keuntungan memiliki sebuah gadget lain yang bisa untuk pengembangan hobi atau menghasilkan foto yang lebih baik.

Kalau masih bertanya ukuran mega pixelnya berapa, paling tidak 18 MP hingga 24 MP tergantung jenisnya. Jelas di atas 13 MP.

D. Bisa Email

Betulkah kita membutuhkan email? Kalau kita hanya bekerja di kantor, bukankah sudah tersedia komputer di kantor. Kalaupun mau membawa pekerjaan ke rumah, bukankah membawa laptopnya pulang jelas lebih baik karena data tersimpan disana?

Lalu untuk apa bisa menggunakan email ketika pekerjaan kita sifatnya statis?

E. Agar Bisa Menonton film

Ini sebuah alasan klasik. Manusia perlu hiburan bahkan di perjalanan. Jadi memiliki sebuah smartphone yang bisa menghadirkan hiburan berupa penayangan film akan membantu emngurangi kebetean.

Tidak dibantah.

Hanya kalau Anda setiap hari menggunakan Commuter Line/KRL Jabodetabek, betulkah Anda benar-benar bisa menikmati fitur ini. Penuh sesaknya penumpang sangat menyulitkan kita bahkan untuk mengeluarkan gadget Anda. Kalaupun bisa tidak terbayangkan untuk menonton atau bermain game sambil berusaha menyeimbangkan tangan.

Kalaupun Anda bisa, saya acungkan jempol untuk itu. Tidak kah Anda takut akan tangan jahil yang jelas sangat tergoda untuk mengambilnya? Kalau jawabannya tidak, pernah kah Anda sadar bahwa menonton film di sebuah kendaraan bergerak dan bergoyang di layar kecil juga bisa  mengganggu kesehatan mata?

Kalau tetap tidak khawatir? OK lah.. Anda menang.

Padahal jelas lebih enak nonton televisi di rumah , dengan layar yang lebih lebar dan juga tidak akan mengganggu kesehatan mata (jika tidka berlebihan menontonnya).


Itu hanyalah beberapa pertanyaan yang mungkin perlu Anda ajukan kepada diri sendiri. Pertanyaan-pertanyaan ini akan membantu Anda untuk menemukan jawaban terhadap sebuah pertanyaan sentral tadi, yaitu "Perlukah Kita Membeli Smartphone Baru?"

Kenapa penting menanyakan hal ini? Karena kita bisa memilah apakah memang "benar-benar butuh" atau hanya karena kita "merasa butuh". Kalau hanya karena merasa butuh, padahal tidak bukankah sayang uang yang dipergunakan untuk membeli sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Bukankah bisa dialokasikan untuk keperluan lainnya?

Bukankah begitu kawan?


Selasa, 12 April 2016

Jangan Jadi Blogger Cengeng

Tags
Dalam beberapa bulan belakangan ini, berbagai forum tentang blogger, terutama yang sudah menjadi Google Adsense Publisher, penuh dengan berbagai keluhan.

Keluhan yang terbaca, biasanya tidak lepas dari menukiknya penghasilan para publisher, CPC (Cost Per Click) iklan yang semakin rendah, CTR (Click Through Ratio) yang tak henti untuk terjun bebas.

Nuansa keputusasaan terdengar dimana-mana.

Tidak jarang yang memaki. Tidak sedikit yang merengek dan merajuk. Tidak terhitung pula yang menyalahkan berbagai pihak, mulai dari Google hingga para pemain kotor yang membentuk komunitas untuk saling mengklik iklan.

Beberapa bahkan tidak sungkan untuk merajuk dan merengek seperti anak kecil tidak diberi permen.

Haaahhh.....

CENGENG!

Terus terang, ketika membaca hal itu, kata tersebut langsung terlintas dan ingin rasanya menyampaikan kepada yang mengeluh. Hanya dengan pertimbangan bahwa mengungkapkan hal tersebut langsung pada yang terkait hanya akan menimbulkan konflik yang tidak perlu, ahirnya kata tersebut tidak pernah terlontar secara langsung.

Meskipun demikian, pegal rasanya mata melihat tingkah polah para rekan sejawat di dunia ngeblog ini, terutama yang berkaitan dengan monetisasi. Pegal hati melihat betapa lembeknya dan cengengnya para blogger Indonesia dalam menyikapi roda kehidupan.

Mengapa?

Sudah banyak sekali tulisan di dunia maya tentang hal yang terkait dengan monetisasi blog dan sebagai sumber penghasilan atau nafkah. Tidak banyak dari blogger-blogger tersebut, baik dari dalam atau luar negeri, yang menganjurkan untuk memfokuskan atau mengandalkan nafkah dari memonetisasi blognya saja.

Tentu saja, banyak juga cerita tentang kesusksesan blogger sehingga mereka berani melepaskan pekerjaan tetap dan menjadi full time blogger. Tidak, hal itu tidak dinafikan. Cukup banyak individu yang berhasil melangkah ke kuadran ini.

Tetapi, pada kenyataannya rasio antara mereka yang berhasil dan yang gagal, tetaplah jomplang alias sangat berbeda jauh. Dari ratusan juta blog dan blogger, hanya terdapat ratusan atau ribuan saja yang berhasil menyembul ke permukaan dan meraih kesuksesan. Silakan teliti sendiri antara jumlah yang berhasil dan bandingkan dengan jumlah blog yang ada.

Oleh karena itulah, kebanyakan blogger sukses dan berpengalaman masih memiliki pekerjaan tetap untuk menopang dapur rumah tangganya. Pada saat yang bersamaan mereka membangun blognya agar bisa memberikan sesuatu sebagai tambahan bagi dirinya. Jarang sekali yang mau langsung memfokuskan diri menjadi full time blogger tanpa adanya sumber nafkah utama. JARANG!

Alasannya sederhana saja.

Mereka sadar bahwa membangun sebuah blog itu memerlukan waktu. Tidak ada blog yang sukses dalam waktu singkat. Mendirikan blog yang sukses itu tidak bisa dilakukan secara instan karena butuh waktu untuk membangun readership atau loyalitas pembaca. Butuh perjuangan untuk membuat banyak tulisan yang dapat mengundang pengunjung. Butuh kreatifitas untuk menyajikan hal-hal baru dan masih banyak hal lainnya yang harus terus dikembangkan.

Membangun blog tidak bedanya seperti mendirikan sebuah bisnis baru. Mereka akan berjalan perlahan sebelum bisa mencapai kesuksesan. Bayangkan, berapa lama sebuah perusahaan sekelas Astra Honda Motor untuk menjadi sebesar seperti sekarang? Lebih dari 40 tahun.

Tanyakan saja kepada blogger sukses yang menjadi panutan dan menginspirasi dunia blogosphere Indonesia, seperti Eka Lesmana, Mas Sugeng dan lain sebagai. Tahunan mereka membangun blog, mengembangkan personal brand, mencari berbagai jalan untuk mendapatkan uang dari blog mereka.

Jangan lupa pula, tanyakan pada mereka berapa kali mereka jatuh bangun dalam merintis jalan menuju kesuksesan! Saya berani bertaruh bahwa jawaban mereka adalah berkali-kali. Berulang kali. Tidak akan pernah ada yang mengatakan bahwa mereka tidak pernah jatuh.

TIDAK CENGENG.

Itulah mereka. Mereka menyadari hal itu dengan baik. Tidak akan ada jalan tanpa onak duri yang tersedia. Yang ada adalah jalan panjang dan keras serta berbatu.

Mereka menempuhnya dengan lapang dada sambil tidak berhenti berusaha menemukan pemecahan dari masalah yang mereka hadapi. Jungkir balik. Tidak jarang berguling-guling.

Tetapi, saya tidak menemukan satu pun tulisan, dari mereka yang sudah sukses, dengan nada merajuk, cengeng. mengeluh.

Mereka tidak cengeng.

Berbeda sekali dengan para blogger yang lahir belakangan dan katanya "menjadikan" yang sukses sebagai panutan. Gampang sekali keluhan dikeluarkan. Gampang sekali mengumbar kenegatifan kesana kesini hanya untuk sekedar memberitahukan orang lain mengenai kesusahan mereka.

Padahal, kalau waktu tersebut dipergunakan untuk menemukan pemecahan atau solusi lain bagi masalah mereka, mungkin masalah tersebut sudah terselesaikan. Sayangnya, waktu tersebut lebih suka mereka pergunakan untuk mengumbar aura negatif ke seluruh penjuru dengan kecengengan mereka.

Mungkin karena itulah, mereka tidak akan pernah menjadi blogger yang sukses di kemudian hari. Kecengengan mereka lah yang akan menjadi penghambat utama dalam mencapai keberhasilan.Tidak ada seorang sukses pun di dunia ini yang berhasil dengan hanya mengeluh, mengeluh, dan mengeluh.

Keberhasilan harus dicapai dengan perjuangan, kerja keras dan kreatifitas dan bukan dengan kecengengan.

Nah, kawan blogger, bila Anda sudah merasakan gejala-gejala kecengengan pada diri Anda, seperti mulai banyak mengeluh. Cepatlah hentikan dengan tetap berpikir positif dan lebih memperbanyak waktu untuk menemukan solusi. Berhentilah untuk pergi ke forum-forum untuk menyebarkan keluhan atau membahas hal-hal tentang penurunan penghasilan dan lain-lain.

Tidak ada gunanya. Itu adalah bagian dari roda kehidupan yang harus dihadapi dan diterima. Tidak pernah ada roda yang selalu di atas atau di bawah.

Kalau ternyata, Anda masih saja tetap mengeluh dan mengeluh tentang penghasilan, ada obatnya. Mujarab sekali dijamin Anda tidak akan mengeluh lagi tentang turunnya pendapatan Adsense atau CPC atau CTR.

Saya sarankan Anda berhenti ngeblog. Dijamin Anda tidak perlu menghadapi hal itu lagi. Carilah pekerjaan tetap yang bisa memberikan pemasukan uang lebih dari iklan di blog Anda. Carilah hal lain yang bisa memenuhi apa yang Anda mau. Banyak jalan menuju ke kesuksesan materi, bukan hanya dari blog.

Kalau Anda tetap mau sukses dari ngeblog, sarannya cuma satu. JANGAN CENGENG!